25 Januari 2012

Seharusnya Tidak.

Hei, seharusnya aku tidak mengirimmu sebuah pesan singkat. Seharusnya aku tidak seberani itu mengatakan aku rindu kepadamu. Seharusnya aku menahan semua perasaan yang ingin aku sampaikan padamu. Seharusnya aku menahan semua yang ingin aku katakan padamu. Seharusnya aku tidak kembali untuk mengingatmu. Seharusnya aku tidak kembali untuk mencari-cari bayangmu. Seharusnya aku tidak perlu untuk kembali menginvite bbmmu. Seharusnya... ah sudahlah, terlalu banyak seharusnya yang sekarang sudah terjadi. 

Pagi ini, kata-kata di bbm dari kamu benar-benar menusukku, sakit, itulah yang aku rasakan. Bahkan aku hanya membiarkan bbm terakhir darimu bukan? Karena aku sudah tidak tahu harus bagaimana untuk menjawabnya dan aku sudah kehabisan kata-kata. Rasanya aku ingin menangis jika aku mengingat semua yang kamu lakukan, semua yang kamu katakan. Aku memang bodoh, aku memang tidak pantas untuk kamu miliki. Itulah yang aku pikirkan sekarang. 

Maaf jika aku membuatmu menyesal untuk pernah mengenalku, untuk pernah menjadikanku milikmu, untuk pernah menyakiti hatimu, untuk tidak pernah menjadi wanita yang baik untukmu, untuk tidak menjadi wanita yang kamu butuhkan dan inginkan, untuk semua yang pernah aku lakukan padamu. Mungkin beribu-ribu maaf tidak akan bisa mengembalikan rasa penyesalanmu, tidak bisa mengembalikanmu seperti dulu.

Terima kasih untuk segalanya. Aku akan berusaha melupakanmu lagi, berusaha mengubur semua perasaanku padamu karena sudah tidak berguna lagi untukmu. Aku akan berusaha untuk tidak mengganggu hidupmu dan membayangimu. Aku menyayangimu dan aku tidak ingin untuk menyakitimu. 



Yang berusaha melupakanmu,
Adel
-->

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar