19 Juli 2012

Bi

"Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi." - Rabi'ah Adawiyah

Syair dari Rabi'ah Adawiyah ini memang ada benarnya. Karena sekarang aku sedang mengalaminya. Ya, ada seseorang yang mengatakan suka dan tertarik padaku. Tapi aku belum berani untuk membuka hati. Karena aku belum begitu mengenalnya dan kami baru berkenalan belum ada sebulan. Dan ketika aku akan membuka hatiku, ada sedikit kesalahan dan salah paham yang akhirnya membuat dia menjadi tidak suka dan tidak tertarik lagi. Bahkan, dia menganggap aku telah menolak dia. Aku saja belum sempat memberikan penjelasan, tapi mau bagaimana lagi jika itu yang dia inginkan? Jika itu yang dia pikirkan?

Awalnya aku tidak berencana untuk membuka hati kepada siapapun, bahkan ketika ada seseorang yang menyukaiku. Aku takut. Takut tersakiti dan menyakiti tentunya. Lalu dia datang, sahabatku Bulbul yang mengenalkannya kepadaku. Untuk menambah teman tentunya. Pada awalnya kami berdua hanya biasa saja, sampai akhirnya dia mengajakku untuk menemaninya makan malam. Dan setelah itu kami berdua semakin dekat walaupun begitu aku masih saja menjaga jarak. Sampai suatu ketika dia bilang, "kok aku seneng ya sama kamu", dan aku hanya berpura-pura gak mengerti maksudnya karena aku tau aku akan jatuh setelahnya. 

Setelah dia berkata seperti itu, aku masih terus berpikir dan berpikir. Dan memutuskan untuk berusaha membuka hati pelan-pelan. Tapi ada satu kejadian dimana aku (menurut dia) melakukan hal yang kasar. Dan besoknya dia mendiamkan aku. Ga BBM seharian, juga Private Message-nya yang seakan menyindir aku, seakan itu tertuju untukku. Jadilah aku salah paham dan dengan emosi aku mendelete contactnya. Kekanakan memang, tapi aku benar-benar ga suka cara dia yang sengaja mendiamkanku, sungguh. Tidak bisakah dia mendiskusikannya denganku baik-baik jika dia juga tidak suka? Bahkan setelah kejadian itu aku meminta maaf kepadanya. Memang itu salahku dan aku sadar. Aku meng-invite contact BBMnya lagi dan aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Tapi mungkin itu sudah terlambat. 

Dan hari ini aku merindukannya. Merindukan saat-saat dia berusaha mengajakku bercanda dan menemaniku hingga larut sampai aku ketiduran. Kata Bulbul, aku harus berusaha biasa saja, tapi tidak bisa, aku tidak bisa untuk membohongi perasaan, aku terlalu jujur. Akhirnya aku mengirimnya sebuah pesan singkat, "Cuma mau bilang, aku kangen kamu. Cuma bilang aja, takut besok-besok udah gabisa bilang :)", dan dia hanya membalas, "Aku bukan org yg tepat untuk di rindukan". Sakit memang ketika semua telah berakhir baru penyesalan itu datang. Tapi seharusnya aku tidak boleh menyesalinya. Karena aku tidak harus memilihnya dan dia tidak harus menjadi sebuah pilihan. 

Dimanapun kamu, aku selalu mendoakanmu untuk kebahagiaanmu, kesembuhanmu, dan kesehatanmu. Jangan lupa makan, jangan makan telat, jangan lupa shalat, jangan keluyuran malam-malam, jangan lupa minum obatnya sampai habis, jangan lupa berjemur kalau sedang kambuh sakitnya. Aku tulus kok doain dan ngingetin kamunya. Maaf dan terimakasih :')


Sincerely,
Adel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar