15 Juli 2012

Bukan tidak siap, tapi belum siap.

Pernah gak sih kalian ngalamin trauma buat menjalin sebuah hubungan? Bukan gak mungkin kalian gak pernah ngalamin. Pasti semua orang pernah ngalamin trauma ini. Begitu juga aku. Jujur aja ya aku masih sedikit trauma buat menjalin sebuah hubungan untuk berkomitmen atau yang sering kita sebut pacaran. Terakhir aku pacaran itu tahun lalu, ya kurang lebih sekarang aku hampir jomblo satu tahun. Lama sih aku pacarannya, 2 tahun lebih 2 bulan. Dan aku putus karena aku ngerasa memang udah gak cocok satu sama yang lainnya. Karena memang aku juga sudah capek harus berantem terus karena hal-hal sepele dan sama-sama saling mengekang. Setelah itu aku sempat menjalin hubungan dengan seseorang, yah mungkin kalian tahu siapa karena namanya ada dibeberapa post blog aku Januari lalu, walaupun aku gak akan pernah menganggap dia sebagai mantan pacar. Sekarang aku malah menganggap dia seorang yang seharusnya gak pernah aku kenal.

Balik lagi ke masalah trauma tadi. Aku nemuin diriku yang setelah sama seseorang itu jadi antipati sama yang namanya cowok. Apalagi setelah yang dilakuin dia itu bikin sakit hati, miris bangetlah rasanya. Dan setelah aku bisa sedikit demi sedikit untuk move on, yang seperti kalian tahu juga ada di post-post sebelumnya, lagi-lagi aku mendapat tamparan yang bener-bener bikin aku sadarnya itu telat pake banget. Aku hanya dibuatnya melambung lalu dijatuhin, ya atau bahasa kerennya jaman sekarang itu, di PHP-in. Gelo juga sih waktu aku nangisin dia dan akhirnya aku tahu keburukannya dia itu gimana. Sampe sahabatku, temen-temenku ngebego-begoin aku karena aku bodoh banget. Padahal ada satu temen yang bilang, "Kamu tuh jangan mau sama dia. Dia itu berengsek. Aku tuh diceritain semua sama sahabatnya," dan bodohnya aku gamau dengerin nasehat temenku yang akhirnya aku nge-galau-in dia. Tau berapa lama aku  galau-in dia? Hampir 5 bulan! Dan jujur aja aku bener-bener Gelo!! 

Aku semakin trauma buat pacaran. Tapi ada saatnya dimana aku ngeluh sama sahabatku, Bulbul namanya, aku ngeluh ke dia kapan aku punya pacar. Padahal aku jelas-jelas masih trauma untuk disakiti. Ya, sampai pada saatnya dimana ada seseorang yang berusaha buat deketin aku. Bahkan sampai sekarang aku masih belum bisa membuka hati. Memang baru kenal kurang lebih 3 minggu dan menurutku dia orang yang baik, dia bisa bikin aku ketawa lepas sampai ngakak-ngakak dan gak tahu malu. Kocak bangetlah orangnya. Tapi ketika seorang teman ada yang bilang, "Mbak aku ga rela kalau kamu sama dia, dia itu suka banter," omongannya dia bikin aku berpikir-pikir ke depan jika aku nantinya hanya di permainkan olehnya. Ya, lagi-lagi rasa antisipasi itu datang lagi, tapi tidak sepenuhnya, aku hanya berjaga jarak aja. 

Masih ada satu orang lagi yang membuatku tertarik. Seseorang yang beberapa hari lalu aku tuliskan di post blog sebelumnya, yang dikenalkan oleh Galang. Tapi yang seperti kalian ketahui, aku tidak berani berharap lebih, aku juga tidak memiliki kesempatan. Ya, karena dia memiliki pujaan hatinya yang lain. Dan bahkan ketika aku masih trauma, ketika aku tidak siap, maksudku ketika aku belum siap untuk memulai sebuah komitmen, belum siap untuk disakiti  lagi oleh seorang Adam. Aku masih harus menata dan memantapkan hati. Bahkan, kalau ada seseorang yang ingin melakukan pendekatan padaku, dia harus bisa berbulan-bulan melakukannya, karena aku ingin melihat seberapa seriuskah dia. Karena hati seorang Hawa tidak untuk dipermaikan.

Entah sampe kapan aku akan seperti ini, merasakan trauma yang aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya. Aku hanya berdoa, suatu saat nanti ada seorang Adam yang akan membantuku menghilangkan trauma ini, bisa memimpin, melindungi, dan menyayangi aku dengan ketulusan hati yang dia miliki. Sambil menunggu sang Adam itu tiba, aku akan menikmati hidupku dengan baik, bahagia dan bebas, xoxo <3 


Ps: Tahu gak sih setiap ada seorang Adam yang bilang suka aku atau sayang aku, perut aku langsung melilit. Gak tahu kenapa pasti ini efek trauma itu :'(

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar