28 September 2012

Terimakasih, Leo.


“Aku pasti bantu kamu, aku akan sabar mengobati lukamu, menopangmu saat kamu terlalu berat untuk melaju, sampai kamu bener-bener sembuh, tak peduli pada siapa selanjutnya kamu berlabuh, aku akan tetap disitu, memperhatikanmu. Mungkin aku cuma kepanjangan tangan dari Tuhan yang ditugaskan untuk menuntunmu menemukan kembali kebahagiaanmu :’)”

Hai, Leo. Apa kabar kamu? Semoga kamu selalu baik-baik saja. Masihkah kamu ingat kalimat diatas, Leo? Aku masih sangat mengingatnya sampai hari ini, detik ini juga. Kalimat yang kamu ucapkan padaku beberapa bulan lalu, yang bahkan (mungkin) sudah kamu lupakan.

Entah kenapa hari ini aku berusaha untuk mengingatmu dan menggali semua kenangan tentangmu yang telah terkubur. Aku membuka kembali ingatan dimana pertama kali aku melihatmu, pertama kali kita berkomunikasi, pertama kali kamu memintaku membuatkan surat cinta untukmu, dan saat-saat dimana kamu bisa menenangkanku dengan semua kata-kata manismu. Ya, kata-kata manis yang seakan memintaku untuk datang kepadamu, seakan kamu memperlihatkan perasaanmu kepadaku, yang akhirnya membuatku jatuh kedalam lubang yang sekarang sudah berhasil aku kubur kembali.

Aku tau tidak akan pernah ada cerita tentang kita, antara aku dan kamu. Semua hanya ilusiku untuk memilikimu. Saat aku berusaha untuk perlahan mendekatimu, menarik perhatianmu, mengharapmu untuk memiliki perasaan yang sama, dan menunggumu untuk datang kepadaku. Akhirnya, kamu memilih untuk bersamanya. Bersama dia teman masa remajaku yang telah mencuri hati dan menarik perhatianmu. Aku tidak mempercayai kenyataan bahwa kamu telah memilih kepada siapa perasaanmu berlabuh tanpa pernah melihatku disini mengharapmu.

Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap 
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat

Lima bulan lamanya aku menunggu. Setelah aku jatuh ketika mengetahui kenyataan pahit ini, aku memutuskan untuk berhenti. Aku lelah untuk menanti cintamu yang tak mungkin aku dapatkan. Beberapa teman mengataiku bodoh karena dengan mudahnya percaya dengan kata-kata manis yang kamu ucapkan dulu. Aku akui aku memang terlalu bodoh saat itu, terlalu cepat untuk jatuh ke dalam tipu dayamu. 

Walaupun begitu, hingga saat ini aku tidak mampu untuk membenci apalagi mendendam padamu, hanya saja aku sudah tidak memiliki perasaan seperti yang aku punya dulu. Karena kamu mengajariku bagaimana mencintai tanpa harus memiliki, mengajariku mencintai tanpa harus memaksa perasaan itu untuk dibalas, mengajariku untuk menerima kekalahan dan pahitnya kenyataan, mengajariku untuk bersabar menunggu, mengajariku untuk merelakan sesuatu, dan mengajariku akan manis dan sakitnya cinta. Terimakasih Leo kamu telah mengajariku banyak hal yang akan menjadi pelajaran berharga dalam hidupku.

Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita

Aku hanya bisa mendokanmu untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesanmu. Selamat berbahagia bersamanya, Leo.

Aku pulang...
Tanpa dendam
Kuterima.. kekalahanku
Aku pulang...
Tanpa dendam 
Kusalutkan.. kemenanganmu 


( Berhenti Berharap - Sheila On 7 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar